Siapapun kita pasti pernah merasakan kehilangan. Baik itu orangtua, sahabat, kekasih, atau siapapun. Menyakitkan, menyesakkan sudah pasti. Apalagi ketika yang hilang ialah sosok yang selama ini menjadi cahaya hidup. Tempat bergantung. Tempat meluahkan segala kisah dan rasa.
2008 lalu, aku mengalaminya. Bukan untuk pertama kalinya. Setahun sebelumnya aku sudah kehilangan sosok teman yang selalu mengisi hariku. Sosok yang begitu ceria, penuh tawa, hingga sosok yang sanggup merenggangkan hubungan dengan orang yang tak melihat kearahku. Pedih. Sakit. Sudah pasti. Terlebih ketika sehari sebelumnya masih asik bersama, bercanda tawa.
Tapi di november 2008, perasaan ini tak dapat lagi kujelaskan. Sosok yang selama ini menjadi peganganku didunia ini, sosok yang aku banggakan, sosok yang terkadang juga kukesalkan karena kemarahannya terhadap tingkahku, pergi untuk selamanya.
Duniaku runtuh seketika.
Kepribadianku berubah sejak saat itu.
Segala yang ku lakukan penuh kekhawatiran. Berpikir apakah ini pantas dilakukan, apakah aku bisa melakukan, bagaimana jika orang lain tidak setuju dengan ku, bagaimana jika orang lain berada diposisiku..
Aku yang sebelumnya tidak begitu. Aku yang datang kesekolah itu sebagai anak baru tidak memiliki sedikitpun rasa takut saat melaporkan anak 'nakal' kepada wali kelas. Aku yang aktif dalam berorganisasi. Aku yang ikut kepramukaan, berkemah hingga keluar kota tanpa kekhawatiran apapun. Tanpa memikirkan apakah orang-orang menyukaiku, apakah orang-orang akan menerimaku.
Setiap orang pasti pernah merasakannya kan? Paling tidak sekali dalam hidup, kehilangan sosok yang benar-benar sangat dibutuhkan untuk bernapas.
Bahkan setelah sepuluh tahun berlalu, sebagian dari diriku belum masih mampu menerima kehilangan itu. Terkadang aku masih berharap sosok itu pulang mengatakan bahwa semua itu hanya mimpi buruk.
Kepribadianku berubah sejak saat itu.
Segala yang ku lakukan penuh kekhawatiran. Berpikir apakah ini pantas dilakukan, apakah aku bisa melakukan, bagaimana jika orang lain tidak setuju dengan ku, bagaimana jika orang lain berada diposisiku..
Aku yang sebelumnya tidak begitu. Aku yang datang kesekolah itu sebagai anak baru tidak memiliki sedikitpun rasa takut saat melaporkan anak 'nakal' kepada wali kelas. Aku yang aktif dalam berorganisasi. Aku yang ikut kepramukaan, berkemah hingga keluar kota tanpa kekhawatiran apapun. Tanpa memikirkan apakah orang-orang menyukaiku, apakah orang-orang akan menerimaku.
Setiap orang pasti pernah merasakannya kan? Paling tidak sekali dalam hidup, kehilangan sosok yang benar-benar sangat dibutuhkan untuk bernapas.
Bahkan setelah sepuluh tahun berlalu, sebagian dari diriku belum masih mampu menerima kehilangan itu. Terkadang aku masih berharap sosok itu pulang mengatakan bahwa semua itu hanya mimpi buruk.
Beruntung aku memiliki sosok lain yang sanggup berkorban demi kami. Sosok yang sebelumnya tidak terlalu terlihat dimataku. Sebelumnya aku hanya mengenalnya sebagai sosok ibu. Hanya sebatas gelar tanpa tau makna dari kata ibu itu sendiri. Selama ini sosok ibu tertutup oleh kedekatanku dengan sosok yang hilang itu.
Mungkin kehilangan ini menjadi cara bagiku untuk mengenal ibu. Seorang yang berkorban apapun demi kami anak-anaknya. Bukan hanya aku.
Beliau berusaha keras menggantikan sosok aba (ayah) bagi kami. Berusaha agar kami tidak berbeda dari anak-anak yang masih memiliki keluarga lengkap. Beliau berjuang seorang diri demi mimpi anak-anak dari pria yang beliau cintai. Berharap pria itu tenang disana melihat anak-anaknya tidak kekurangan satu apapun meski tanpa keberadaannya.
Tidak mudah menjalani hari-hari kehilangan. Tidak bagiku, bagi ibuku, bagi kakakku, bagi adik-adikku, atau bagi siapapun itu. Tidak mudah menghadapi kehilangan. Tidak seorangpun yang mengerti kesedihan itu selain diri sendiri.
Tapi seiring waktu berlalu, perlahan luka kan tertutup. Waktu kan mengobati segalanya. Kehilangan itu juga. Asal kita berusaha.
Iya, saat ini pun lukaku belum sembuh sepenuhnya akibat kehilangan itu. Kehilangan yang sangat berdampak terhadap diriku yang sekarang, tehadap kepribadianku yang sekarang.
Tapi seiring berjalalannya waktu. Kebiasaan kan terbentuk akan ketiadaan sosok itu. Kealpaannya yang cukup lama perlahan kan termaafkan. Perlahan hati dan diri akan menyadari bahwa diri akan baik-baik saja. Bahwa sosok itupun berharap diri baik-baik saja tanpa dirinya. Cobalah mencari hikmah dari kehilangan itu. Mencari hal lain yang mampu mempertahankan kewarasan dan hidup. Mungkin butuh waktu. Jelas itu butuh waktu. Tapi teruslah berproses.

0 komentar:
Posting Komentar