Selasa, 08 April 2014

Mentari

Kukuruyuk.....
Sijago berteriak menggema desa, membunyikan lonceng pagi, menunjukkan waktu tuk mentari menampakkan kemolekannya. Perlahan dengan sangat anggun, dengan sinarnya, ratu cahaya itu berjalan menggapai singgasananya setelah sebelumnya berterima kasih pada sijago. Ia tersenyum ketika melewati para kumbang dan kembang yang asyik memadu kasih dalam romantika pagi. Indah pasti rasanya.

Sejenak ia tertegun melihat burung-burung dan layang-layang yang memenuhi angkasa. "Layang-layang itu seakan tak ingin kalah dari para burung" , kembali ia tersenyum.

"Langit biru memang tempat bersukaria".

Awan-awan putih sebagai guardian penjaga suasana siaga ditempatnya. Takut jika nanti awan hitam nan tak bersahabat muncul mengacaukan segalanya.

Dipagi yang indah mentari kembali memancarkan sinar keromantisannya. Seakan menghindari undangan para pecinta yang selalu mengharapkannya.

Selesai dengan semua itu, ia kembali melangkah tuk menyinari bola raksasa. Meski kadang kehadirannya tak dikehendaki, ia tetap memberikan kehangatannya. Tak peduli mereka suka atau tidak.

Puas dengan itu segera ia duduk disinggasananya, meski saat itu banyak yang tak menyukainya. Sinar yang ia berikan tak mampu menjatuhkan pandangan negatif orang-orang yang tak tau bersyukur itu padanya. Ia sedikit tersinggung, namun masih tetap memberikan sinar dan kebahagiaannya. Mulia sekali. Ia tersenyum dan terus tersenyum.

Namun ketika semua mulai tak menginginkannnya lagi, bahkan memojokkan nya, ia tak mampu lagi bertahan. Perlahan kesabarannya menipis, hingga kemudian terkuras habis.

Masih dengan keanggunannya, ia menjauh dari singgasana. Tak ingin mendapat lebih banyak cacian. Ia sedikit kesal dengan masyarakat itu.

Dibalik kekesalannya ia masih memberikan sinar merah nan indah. Para kembang dan kumbang bersukaria menerimanya. Mereka tak tau dalam tabir keindahan itu sang mentari menyimpan luka nan dalam.

Hari ini, didesa permai ini, ia kembali berlalu begitu saja. Hanya sekejap merasakan singgasana. "Semoga dibola bumi bagian sana, aku bisa mengenyam singgasana lebih lama", harap sang pencerah.

0 komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Let me know you

Nama

Email *

Pesan *

Goresan Kisah. Diberdayakan oleh Blogger.