Minggu, 28 Juli 2019

Pelatihan Kewirausahaan Oleh Forum Kewirausahaan Pemuda


Pemuda - Maju !
Olahraga - Jaya !


Beberapa waktu yang lalu aku bersama dua orang teman lainnya mewakili kabupaten Rokan Hilir untuk mengikuti pelatihan kewirausahaan yang ditaja oleh Forum Kewirausahaan Pemuda (FKP) Riau bersama Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Riau. Jujur, saat pertama kali turun untuk pelatihan aku sama sekali ga tau apa itu FKP. Apa itu, bagaimana, dimana, semuanya, sama sekali ga tau. Meski sebelum turun sebenarnya udah ketemu sama senior-senior dari FKP tapi tetap aja belum ngerti. You know lah, how was an introvert girl on a conversation. Selama pertemuan bersama senior aku lebih banyak diamnya. Nyahut pun yaaaa membeo (iya, heeh, ga, iya ya, dan seterusnya yang unfaedah). Dasar akuh.

Tapi anehnya begitu dipelatihan introvert-nya berkurang. Thanks to my roommate selama pelatihan (dekkuh @refiwardani). 


Next post kita bahas lebih lanjoot soal introvert and ekstrovert inih yah. Kali ini kita bahas FKP nya.

Dari apa yang aku dapat selama pelatihan, aku bisa mengerti bahwa FKP itu ialah sebuah wadah dimana para pemuda berkumpul saling berbagi ide guna menjadi pemuda yang lebih bermanfaat bagi negara. Dalam hal ini pemuda bergerak dalam berbagai bidang usaha. Ada yang masih merintis, yang mulai berkembang, ada pula yang sudah mencapai level wah.

Nah, FKP ini berada dibawah bimbingan Dinas Kepemudaan dan Olahraga. Kemaren ketika pelantikan kepengurusan FKP untuk kabupaten/kota se-provinsi Riau kita dikukuhkan oleh Bapak Doni Aprialdi, Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Provinsi Riau.



Selama beberapa hari dipelatihan kita diberikan materi-materi tentang FKP dan kewirausahaan. Para pematerinya juga mereka yang sudah berhasil dibidang usaha masing-masing. Yang sangat berkesan (sebenarnya semuanya berkesan, cuman yang ini lebih dikit) ialah Pak Beni, owner dari Mega Rasa (Pusat Oleh-Oleh Khas Riau). Mungkin karena dibidang yang sama dengan usaha aku kali ya jadi Pak Beni sangat berkesan bagi aku. Pak Beni memberikan beberapa tips tentang proses produksi dan pengemasan untuk produk makanan olahan.

Selain materi diruangan, kita juga diberikan pelatihan lapangan tentang kewirausahaan. Kita diminta untuk turun kepasar bawah untuk membantu para pedagang disana untuk menjual dagangan mereka serta mendapatkan upah dari apa yang kami kerjakan. Kemudian kita juga diminta untuk ke Mall Pekanbaru untuk mencari para owner bisnis disana yang bersedia berbagi kisah perjalanan bisnis mereka untuk dijadikan pelajaran bagi kami para pemula dibidang wirausaha ini. 


Sekarang ketika sudah kembali kekabupaten/kota masing-masing kita diharapkan mampu mengaplikasikan ilmu-ilmu yang kita dapatkan dari pelatihan. Dan aku serta kedua teman aku (@ekowah_ dan @desmidurahman) secara otomatis menjadi pengurus FKP Kabupaten Rokan Hilir dan kita bersama para senior FKP Rokan Hilir lainnya diharapkan mampu mewujudkan pemuda Rokan Hilir yang berjiwa wirausaha sesuai visi dan misi kita di FKP Rokan Hilir. 

Semoga FKP Rokan Hilir periode 2019-2022 bisa bersinergi dan bekerjasama untuk Rokan Hilir yang lebih baik. Aamiin.

Jumat, 12 April 2019

Healing Time

Gadis menyebut masa ini sebagai "Healing Time".
Masa tuk memperbaiki diri.
Masa tuk membuka diri.
Masa tuk menyembuhkan diri.

Sudah beberapa waktu masa ini berjalan. Dari awal Gadis menyadari ini tidak akan mudah. Dan Gadis akan sangat membutuhkan orang-orang.
Karena itu Gadis kembali.
Meski masih dalam bayang-bayang dunia palsunya.
Gadis kembali.

Meski Gadis tak bisa mendeklarasikan kehancurannya.
Sekali lagi demi harga dirinya yang tersisa. Gadis meminta bantuan dalam diam. Berharap akan baik-baik saja tanpa Gadis bicara.

Karena
Dalam diam menolak menjawab segala pertanyaan kekhawatiran, Gadis berharap bisa bangkit.
Karena
Dalam senyum bersama, bercanda tawa, berkumpul bersama, berbagi cerita, Gadis berharap bisa melepas topeng.

Minggu, 17 Maret 2019

Kehilangan Cahaya

Siapapun kita pasti pernah merasakan kehilangan. Baik itu orangtua, sahabat, kekasih, atau siapapun. Menyakitkan, menyesakkan sudah pasti. Apalagi ketika yang hilang ialah sosok yang selama ini menjadi cahaya hidup. Tempat bergantung. Tempat meluahkan segala kisah dan rasa.

2008 lalu, aku mengalaminya. Bukan untuk pertama kalinya. Setahun  sebelumnya aku sudah kehilangan sosok teman yang selalu mengisi hariku. Sosok yang begitu ceria, penuh tawa, hingga sosok yang sanggup merenggangkan hubungan dengan orang yang tak melihat kearahku. Pedih. Sakit. Sudah pasti. Terlebih ketika sehari sebelumnya masih asik bersama, bercanda tawa.

Tapi di november 2008, perasaan ini tak dapat lagi kujelaskan. Sosok yang selama ini menjadi peganganku didunia ini, sosok yang aku banggakan, sosok yang terkadang juga kukesalkan karena kemarahannya  terhadap tingkahku, pergi untuk selamanya. 
Duniaku runtuh seketika.

Kepribadianku berubah sejak saat itu.

Segala yang ku lakukan penuh kekhawatiran. Berpikir apakah ini pantas dilakukan, apakah aku bisa melakukan, bagaimana jika orang lain tidak setuju dengan ku, bagaimana jika orang lain berada diposisiku..

 Aku yang sebelumnya tidak begitu. Aku yang datang kesekolah itu sebagai anak baru tidak memiliki sedikitpun rasa takut saat melaporkan anak 'nakal' kepada wali kelas. Aku yang aktif dalam berorganisasi. Aku yang ikut kepramukaan, berkemah hingga keluar kota tanpa kekhawatiran apapun. Tanpa memikirkan apakah orang-orang menyukaiku, apakah orang-orang akan menerimaku.

Setiap orang pasti pernah merasakannya kan? Paling tidak sekali dalam hidup, kehilangan sosok yang benar-benar sangat dibutuhkan untuk bernapas.

Bahkan setelah sepuluh tahun berlalu, sebagian dari diriku belum masih mampu menerima kehilangan itu. Terkadang aku masih berharap sosok itu pulang mengatakan bahwa semua itu hanya mimpi buruk.
 
Beruntung aku memiliki sosok lain yang sanggup berkorban demi kami. Sosok yang sebelumnya tidak terlalu terlihat dimataku. Sebelumnya aku hanya mengenalnya sebagai sosok ibu. Hanya sebatas gelar tanpa tau makna dari kata ibu itu sendiri. Selama ini sosok ibu tertutup oleh kedekatanku dengan sosok yang hilang itu.

Mungkin kehilangan ini menjadi cara bagiku untuk mengenal ibu. Seorang yang berkorban apapun demi kami anak-anaknya. Bukan hanya aku.
Beliau berusaha keras menggantikan sosok aba (ayah) bagi kami. Berusaha agar kami tidak berbeda dari anak-anak yang masih memiliki keluarga lengkap. Beliau berjuang seorang diri demi mimpi anak-anak dari pria yang beliau cintai. Berharap pria itu tenang disana melihat anak-anaknya tidak kekurangan satu apapun meski tanpa keberadaannya.

Tidak mudah menjalani hari-hari kehilangan. Tidak bagiku, bagi ibuku, bagi kakakku, bagi adik-adikku, atau bagi siapapun itu. Tidak mudah menghadapi kehilangan. Tidak seorangpun yang mengerti kesedihan itu selain diri sendiri.

Tapi seiring waktu berlalu, perlahan luka kan tertutup. Waktu kan mengobati segalanya. Kehilangan itu juga. Asal kita berusaha.
Iya, saat ini pun lukaku belum sembuh sepenuhnya akibat kehilangan itu. Kehilangan yang sangat berdampak terhadap diriku yang sekarang, tehadap kepribadianku yang sekarang.

Tapi seiring berjalalannya waktu. Kebiasaan kan terbentuk akan ketiadaan sosok itu. Kealpaannya yang cukup lama perlahan kan termaafkan. Perlahan hati dan diri akan menyadari bahwa diri akan baik-baik saja. Bahwa sosok itupun berharap diri baik-baik saja tanpa dirinya. Cobalah mencari hikmah dari kehilangan itu. Mencari hal lain yang mampu mempertahankan kewarasan dan hidup. Mungkin butuh waktu. Jelas itu butuh waktu. Tapi teruslah berproses.

Let me know you

Nama

Email *

Pesan *

Goresan Kisah. Diberdayakan oleh Blogger.